Showing posts with label iPhone5. Show all posts
Showing posts with label iPhone5. Show all posts

Wednesday, July 4, 2018

Kembali ke Kota Tua Semarang




Semarang, kota yang selalu membuat kangen untuk kembali ke sana. Banyak hal-hal menarik yang bisa difoto di sana.

Semarang adalah ibu kota propinsi Jawa Tengah. Letaknya berada di tengah-tengah jalur pantai Utara Pulau Jawa.
Ke Semarang bisa melalui jalur darat dengan menggunakan bis, kendaraan pribadi atau kereta api.
Atau dengan pesawat udara.

Juli 2016 lalu, saya mencoba menggunakan kereta api menuju Semarang.
Berangkat dari Stasiun Gambir jam delapan malam, dan tiba di kota Semarang jam tiga pagi dini hari.
Setelah check-in di hotel, sengaja menyempatkan diri untuk sarapan awal di sekitar Simpang Lima.

Kemudian menjelang matahari terbit, beranjak ke daerah Kota Tua Semarang. Dan berhenti di sekitar Gereja Blenduk, gereja tertua di Kota Semarang. (lebih detail tentang Gereja Blenduk bisa dibaca di link berikut: Tentang Gereja Blenduk).

Melepas lelah rebahan di taman sebelah gereja dan menyempatkan membuat sketsa gereja, sembari menunggu bukanya kios-kios penjualan barang antik di gang sebelah gereja.

Kemudian berkeliling dengan becak dan menyempatkan diri mampir ke Stasiun Tawang, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Gereja Blenduk, untuk membeli tiket Kereta Api pulang ke Jakarta.

Dan akhirnya menyantap makan siang di Speigel, Bar & Bistro yang letaknya persis di sebelah Gereja Blenduk.
  
Shooting Date: 10 July 2016
Camera Model Name: #iPhone5s & #iPhone5






Gereja Blenduk, Semarang























Keliling dengan becak












Stasiun Tawang















Makan siang di Spiegel




















+ Sambodo MSR


Sunday, December 3, 2017

Bajaj Oranye, Apa Kabarmu?



Bajaj oranye, yang selalu membuat penasaran ku akan bentuknya, kemana gerangan mereka mulai menghilang?
Tanpa tersadar perlahan mulai tergantikan oleh bajaj berwarna biru yang katanya lebih ramah lingkungan.

Sore itu di bulan Mei 2016, rasa penasaranku pun bertambah ketika melihat bajaj melintas di depanku sedang menarik menggandeng bajaj yang lain.

Rasa itu menggerakkan kakiku untuk mengejarnya. Ternyata berhenti di tikungan dekat sebuah pangkalan hansip.
Kudekati si abang supir yang terlihat berantakan dan berewokan itu. Ku meminta ijin untuk memoto bajaj tersebut.

Shooting Date: 28.05.2016
Camera Model Name: #iPhone5






Setelah selesai memoto dengan hape, kudekati si abang supir bajaj dan bertanya kenapa gerangan bajaj oranye sudah mulai sedikit jumlahnya.
Bang Brewok, begitu dia dipanggil, menjelaskan bahwa Perda DKI sudah melarang perpanjangan KIR dan ijin operasi mulai bulan Juni 2016. Dan bajaj-bajaj oranye akan dijual dibawa ke suatu tempat untuk dihancurkan.

Mendengar hal ini, ku pun tertarik untuk dapat mengunjungi "kuburan akhir" bajaj oranye ini.
Dan ku pun berjanji di akhir minggu untuk bertemu kembali dengan si Bang Brewok.





Dan Sabtu pagi ku pun bertemu dengan Bang Bewok. Ternyata kita harus ke rumah salah satu juragan bajaj untuk menarik bajaj lainnya. Bang Bewok ternyata mendapat upah untuk jumlah bajaj yang dibawa ke lokasi penghancuran bajaj.








Untuk menutup ongkos jalan dan mendapat hasil yang besar, Bang Bewok menggandeng bajaj menjadi 3 gandengan. Dengan cara melepas ban depan bajaj dan menyangkutkannya ke bajaj yang di depannya. Dan ternyata si Bewok tidak membawa kenek untuk membantu melakukan semua prosesnya. Jadilah aku kenek dadakan yang harus bantu mengangkat depan bajaj atau mendorongnya ketika gandengan bajaj ini mogok di salah satu fly over di rute perjalanan kita.







Ada beberapa lokasi pembongkaran bajaj di Jakarta. Kami menuju ke lokasi yang berada di Jakarta Barat.
Untuk mencapai ke sana kami melalui jalan Casablanca dan mendaki beberapa flyover.

Sesampainya di lokasi "kuburan akhir" bajaj, banyak sekali bajaj yang mengantri untuk "dibantai", dipreteli diambil onderdil dan mesinnya.




















Tidak semua bajaj ternyata dipretelin untuk diambil komponennya. Istilah mereka dikanibal.
Bajaj utuh pun masih ada yang dijual ke kolektor yang ingin menyimpannya di rumah-rumah mereka atau pemilik restauran yang ingin memajangnya di restauran mereka, atau malah di bawa ke daerah untuk menjadi angkutan pertanian di desa.

Sebagian besar bajaj di Jakarta sudah digantikan dengan bajaj biru baru yang lebih ramah lingkungan.

Bajaj oranye, apa kabarmu sekarang?



Di bawah ini beberapa foto dari account Instagram saya Simply Sam, yang difoto menggunakan kamera analog.







+Sambodo MSR