Showing posts with label transport. Show all posts
Showing posts with label transport. Show all posts

Sunday, January 7, 2018

Pak Ais, the Driver of Rental Car in Ambon





Sepulang dari Kei Island, Maluku, rombongan kami memutuskan untuk menghabiskan waktu transit di Ambon dengan berkeliling kota Ambon. 4-5 jam saya rasa cukup untuk keliling sebentar di Kota Ambon.

Saya selalu bisa dengan cepat berbaur dengan supir. Cari info sebentar di antara mereka, aku memilih bapak berperawakan tegap dan botak.
Namanya siapa pak? "Ais nama saya pak. Ais Taxi", jawab beliau.
Mobilnya Toyota Innova, saya pikir cukup besar untuk memuat koper dan kami berenam.

Awalnya emang Pak Ais berkesan serem. Karena saya selalu menilai orang tidak dari tampilan luarnya, saya tetap memilih Pak Ais. Beliau ceria sekali, sepanjang jalan bercerita tentang kota Ambon dan pengalamannya.

Bapak paling serem bawa penumpang seperti apa?
"Saya pernah bawa jenazah pak ke pulau Seram. Tapi bukan pake mobil ini", beliau menuturkan. "Teman-teman saya heran kok saya berani membawa mayat".
"Saya bilang, mayat kan perlu dikuburkan. Kita harus menghormati orang yang pernah hidup".
"Saya gak takut sama mayat, saya takut sama orang yang hidup".

Bapak pernah ada cerita dengan penumpang yang genit?
..... Tiiiiiit...... [Sensor].
ha ha ha ha....kalo mau tau ceritanya, nanti saya ceritakan ya.

Pak, Ambon kok panas ya
"Yaah itu lah manusia. Dikasih panas komentar. Hujan pun mengeluh. Jalanin aja yang Tuhan kasih" Wow.

Sesaat kita berhenti untuk membeli ikan asap cakalang.
Pak sini saya foto nanti saya info keteman-teman kalau butuh jasa bapak bisa hubungi Pak Ais.
"Pak Sam, pinjam kacamata hitamnya. Sini saya pake, biar gantengan dikit".
Cekrek... Jadi lah foto yang terpampang di atas.

Buat teman-teman yang kebetulan mampir ke Ambon dan butuh mobil sewaan, bisa hubungi pak Ais.
Nomor telepon beliau: +62 852 4317 6278







Sehat selalu ya pak Ais.

Nantikan cerita perjalanan di Ambon dan di Kei Island.



Sunday, December 3, 2017

Bajaj Oranye, Apa Kabarmu?



Bajaj oranye, yang selalu membuat penasaran ku akan bentuknya, kemana gerangan mereka mulai menghilang?
Tanpa tersadar perlahan mulai tergantikan oleh bajaj berwarna biru yang katanya lebih ramah lingkungan.

Sore itu di bulan Mei 2016, rasa penasaranku pun bertambah ketika melihat bajaj melintas di depanku sedang menarik menggandeng bajaj yang lain.

Rasa itu menggerakkan kakiku untuk mengejarnya. Ternyata berhenti di tikungan dekat sebuah pangkalan hansip.
Kudekati si abang supir yang terlihat berantakan dan berewokan itu. Ku meminta ijin untuk memoto bajaj tersebut.

Shooting Date: 28.05.2016
Camera Model Name: #iPhone5






Setelah selesai memoto dengan hape, kudekati si abang supir bajaj dan bertanya kenapa gerangan bajaj oranye sudah mulai sedikit jumlahnya.
Bang Brewok, begitu dia dipanggil, menjelaskan bahwa Perda DKI sudah melarang perpanjangan KIR dan ijin operasi mulai bulan Juni 2016. Dan bajaj-bajaj oranye akan dijual dibawa ke suatu tempat untuk dihancurkan.

Mendengar hal ini, ku pun tertarik untuk dapat mengunjungi "kuburan akhir" bajaj oranye ini.
Dan ku pun berjanji di akhir minggu untuk bertemu kembali dengan si Bang Brewok.





Dan Sabtu pagi ku pun bertemu dengan Bang Bewok. Ternyata kita harus ke rumah salah satu juragan bajaj untuk menarik bajaj lainnya. Bang Bewok ternyata mendapat upah untuk jumlah bajaj yang dibawa ke lokasi penghancuran bajaj.








Untuk menutup ongkos jalan dan mendapat hasil yang besar, Bang Bewok menggandeng bajaj menjadi 3 gandengan. Dengan cara melepas ban depan bajaj dan menyangkutkannya ke bajaj yang di depannya. Dan ternyata si Bewok tidak membawa kenek untuk membantu melakukan semua prosesnya. Jadilah aku kenek dadakan yang harus bantu mengangkat depan bajaj atau mendorongnya ketika gandengan bajaj ini mogok di salah satu fly over di rute perjalanan kita.







Ada beberapa lokasi pembongkaran bajaj di Jakarta. Kami menuju ke lokasi yang berada di Jakarta Barat.
Untuk mencapai ke sana kami melalui jalan Casablanca dan mendaki beberapa flyover.

Sesampainya di lokasi "kuburan akhir" bajaj, banyak sekali bajaj yang mengantri untuk "dibantai", dipreteli diambil onderdil dan mesinnya.




















Tidak semua bajaj ternyata dipretelin untuk diambil komponennya. Istilah mereka dikanibal.
Bajaj utuh pun masih ada yang dijual ke kolektor yang ingin menyimpannya di rumah-rumah mereka atau pemilik restauran yang ingin memajangnya di restauran mereka, atau malah di bawa ke daerah untuk menjadi angkutan pertanian di desa.

Sebagian besar bajaj di Jakarta sudah digantikan dengan bajaj biru baru yang lebih ramah lingkungan.

Bajaj oranye, apa kabarmu sekarang?



Di bawah ini beberapa foto dari account Instagram saya Simply Sam, yang difoto menggunakan kamera analog.







+Sambodo MSR